Insensitive

Sebab Imam Besar yang kita punya, bukanlah imam besar yang tidak dapat turut merasakan kelemahan-kelemahan kita, sebaliknya sama dengan kita, Ia telah dicobai, hanya tidak berbuat dosa.- Ibrani 4:15
Peringatan untuk mengenang tokoh pejuang HAM, Martin Luther King, Jr, tahun 2002 lalu diwarnai kejadian tidak mengenakkan. Saat itu, James Earl Jones, seorang aktor kawakan kulit hitam Amerika mendapatkan penghargaan Martin Luther King, Jr, atas kontribusinya dalam dunia akting. Tapi, rupanya ada satu kesalahan ‘kecil’ yang membuat kehebohan besar terjadi. Plakat yang sedianya bertuliskan nama James Earl Jones justru bertuliskan “Terima kasih untuk James Earl Ray yang tetap menjaga impian kita menyala.” Hanya salah tulis ‘Jones’ dan ‘Ray’. Tapi, tahukah Anda siapa James Earl Ray? Dia adalah yang membunuh Martin Luther King, Jr!
Protes datang dari banyak orang yang menyayangkan ketidakpekaan perusahaan yang mencetak plakat tersebut. Meski hal itu kemungkinan besar adalah ketidaksengajaan, tapi kesalahan tersebut hanya bisa terjadi karena pembuatnya tidak teliti. Mungkin ia hanya menganggap plakat itu sekadar sebuah benda berukirkan nama seseorang. Padahal, bagi James Earl Jones, plakat itu adalah bukti penghargaan atas kerja kerasnya. Demikian pula bagi mereka yang menghadiri acara itu, plakat tersebut adalah pengingat akan perjuangan Martin Luther King, Jr.
Dalam hidup bersama orang lain, mungkinkah kita pernah terjebak dalam sikap seperti ini? Segala sesuatu hanya dibandingkan dengan diri kita. Menyapa bukanlah hal penting karena aku pun tidak keberatan jika tidak disapa. Orang desa itu bodoh dan norak tidak seperti diriku yang modern, dll. Demikian pula sebaliknya. Bukankah banyak konflik terjadi karena ini? Padahal, Perjanjian Baru adalah kesaksian tentang Tuhan yang bersedia merendahkan diri untuk menjadi manusia. Jika Yesus menilai manusia dari membandingkan dengan diri-Nya sendiri, Ia tidak akan pernah memuji janda miskin, wanita yang sakit pendarahan, perwira Kapernaum, dll. Tapi, Yesus adalah Allah yang mengerti kelemahan dan penderitaan kita (Ibr. 4:15). Jangan sampai kita menjadi orang yang hanya mengukur orang lain dengan ukuran diri sendiri. Tapi, hargailah setiap pandangan orang lain.
(Arie)
» Artikel Rohani ini diambil dari Renungan Harian Spirit
» Anda dapat memesan versi cetaknya dengan cara mengisi formulir pemesanan.
Baca Juga Artikel Rohani di bawah ini:

Misteri 13
Amatilah perilaku masyarakat posmodern. Seharusnya semakin maju sebuah peradaban, maka hal-hal yang bersifat takhayul atau mistis akan semakin ditinggalkan. Nyatanya, sampai kini hal-hal yang bersifat mistis atau takhayul masih saja populer. Sebagai contoh adalah ketakutan dengan angka 13 yang ditengarai sebagai angka sial. Istilah lain untuk ketakutan terhadap angka 13 ...

Kesalahan Fatal
Ini adalah contoh tentang kesalahan yang sangat fatal. Kerajaan Grenada di
Kepulauan Karibia, mengundang Duta Besar China untuk hadir dalam peresmian stadion
olahraga di St. George’s yang dalam pembangunannya didanai oleh China.
Untuk menghormati China yang telah menyumbangkan 40 juta dolar AS untuk pembangunan ...



















