Martin Chuzzlewit

...pergilah ia dengan sedih, sebab banyak hartanya.- Matius 19:22
Ini adalah ringkasan Martin Chuzzlewit, novel karya Charles Dickens, salah satu novelis terkenal pada abad pertengahan. Pada suatu hari, di Inggris ada seorang kakek tua yang sangat kaya raya yang hidup bersama kerabatnya. Para kerabatnya itu saling berlomba, berusaha merebut hatinya dengan menyembah-nyembah di kakinya dan menjanjikan cinta yang tidak akan pernah padam baginya. Tapi, laki-laki tua ini cukup cerdik. Ia mengetahui motif tindakan mereka. Jadi, ia ingin pewarisnya adalah orang yang sungguh-sungguh mencintainya, bukan karena hartanya.
Seorang cucunya, Martin Chuzzlewit adalah seorang pemuda yang dipilihnya. Walaupun anak ini tidak suka dibentak-bentak olehnya, tapi ia bisa melihat ketulusan hatinya. Akhirnya dia memutuskan untuk mengujinya. Karena melihat gelagat bahwa pemuda itu jatuh cinta kepada gadis yang menjadi penjaganya, ia sengaja mengirim pemuda itu ke Amerika. Singkat cerita, di sana pemuda Martin mengalami kebangkrutan. Pada waktu Martin kembali ke Inggris, ia mendapati sang kakek rupanya sudah jatuh miskin. Walaupun dia sendiri mengalami kesusahan, pemuda ini berkeras mengurus mereka semua, termasuk si gadis yang kemudian menjadi istrinya. Tentu saja sang kakek tidak benar-benar jatuh miskin. Tapi satu-satunya cara untuk mengetahui bahwa Martin sungguh-sungguh mencintainya adalah dengan menyingkirkan harta benda dari kehidupannya.
Apakah Anda juga akan lulus jika diuji seperti Martin Chuzzlewit? Pemuda kaya yang saleh dan tidak bercacat dalam melakukan hukum Taurat pun gagal ketika ujian yang sama diberikan padanya oleh Yesus. Pemuda tersebut tidak rela hati melepaskan hartanya yang sangat banyak, membagikan pada yang miskin, dan mengikut Yesus. Bagaimana jika Tuhan memutuskan untuk menahan berkat-Nya? Apa kita akan kembali pada ilah yang menguntungkan, yang memberi kita hadiah-hadiah kecil, ataukah kita akan mantap mengasihi Tuhan, tanpa melihat pada materi yang akan didapatkan. Anda sendiri yang memutuskan.
(Dhany)
» Artikel Rohani ini diambil dari Renungan Harian Spirit
» Anda dapat memesan versi cetaknya dengan cara mengisi formulir pemesanan.
Baca Juga Artikel Rohani di bawah ini:

Dengan Cinta
Pertama kali saya bekerja, saya menjadi seorang staff pada sebuah perusahaan
dengan bidang pekerjaan yang sangat membosankan. Itu sebabnya ketika weker di
kamar saya dengan nada cempreng berbunyi tanpa permisi di pagi hari, dengan
bermalas-malasan saya harus meninggalkan empuknya kasur dan segera bersiap diri ...

Luka Akibat Pengkhianatan
Kita masih bisa tahan seandainya ditipu dan diperlakukan secara licik oleh
musuh. Kita masih bisa sabar dengan berita miring tentang kita akibat iri hati
dan fitnah. Kita masih bisa tersenyum seandainya harus berhadapan dengan si
gunung berapi yang meledak dalam kemarahan tanpa alasan. Meski ...



















