Memperkaya Sesama

Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; - Matius 25:35
Saya baru saja membaca biografi Albert Schweitzer. Saya sangat terinspirasi dan kagum dengan orang yang luar biasa ini. Betapa tidak? Ia seorang yang cerdas dengan 3 gelar Ph.D., yaitu dalam bidang filsafat, teologi dan musik. Pada usia 30, ia sudah menjadi begitu terkenal dan hidup dengan enak. Namun ketika ia membaca artikel tentang orang-orang Afrika yang menderita, sekarat, bahkan mati karena kurang gizi. Hatinya tergoncang, dan ia harus segera melakukan sesuatu. Ia memutuskan untuk belajar di fakultas kedokteran dan setelah lulus, ia berani meninggalkan kehidupannya yang nyaman untuk melayani orang-orang di Afrika selama 50 tahun! Sungguh nilai pengorbanan yang luar biasa demi melihat kehidupan sesama menjadi lebih baik.
Albert Schweitzer sangat berpotensi menjadi orang hebat dan orang yang kaya raya, namun ia tidak memperkaya dirinya. Ia justru memberikan hidupnya untuk melayani orang-orang miskin di Afrika dengan biaya sendiri. Menurut saya, itulah sukses sejati. Berbicara soal sukses tak selalu diukur dari berapa banyak uang yang kita punya, berapa aset perusahaan kita, atau berapa gaji kita sebagai tenaga profesional, dsb. Bukan soal bagaimana kita memperkaya diri kita sendiri, tapi bagaimana kita memperkaya kehidupan sesama kita dan menjadikan kehidupan mereka lebih baik.
Sebagai seorang murid Kristus, marilah kita meneladani apa yang dilakukan Kristus selama pelayanan-Nya di bumi ini. Yesus tidak memperkaya diri-Nya sendiri, sekalipun hal itu sangat bisa jika Dia mau melakukannya. Sebaliknya hidupnya diabdikan untuk manusia, khususnya manusia yang terpinggirkan dan terabaikan. Melalui tulisan ini, saya ingin mengetuk hati kita semua untuk mulai peka dan peduli terhadap keadaan sesama kita. Ingatlah bahwa kita diberkati bukan untuk memperkaya diri kita sendiri, kita diberkati untuk menjadi berkat bagi orang lain sehingga dunia melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa di sorga. Sesungguhnya kesuksesan kita akan menjadi semu, sebelum kita bisa menjadi berkat bagi sesama kita.
Bukan soal bagaimana kita memperkaya diri, tapi bagaimana memperkaya kehidupan sesama.
(Kwik)
» Artikel Rohani ini diambil dari Renungan Harian Spirit
» Anda dapat memesan versi cetaknya dengan cara mengisi formulir pemesanan.
Baca Juga Artikel Rohani di bawah ini:

Penyakit Menunda
Seorang petani tua selama bertahun-tahun terpaksa membajak di sekeliling sebuah batu besar di salah satu petak sawahnya. Batu itu telah mematahkan beberapa mata bajak dan sebuah cangkul miliknya. Semakin hari batu itu makin menyusahkan pak tani. Satu hari setelah mata bajaknya kembali patah, dan teringat akan berbagai kesulitan yang telah ...

Optimalkan
Komputer bukanlah barang yang asing bagi kita. Setiap hari saya selalu bersentuhan
dan menggunakan komputer sebagai alat untuk bekerja. Meski demikian hasil yang
dicapai dengan bantuan teknologi komputer belum bisa maksimal, padahal semua
fungsi sudah tersedia lengkap di komputer tersebut. Tentu saja ini bukan ...



















