Renungan Kristen Spirit


Artikel Rohani

Memperkaya Sesama

Bacaan: Matius 25:31-46

Sebab ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku haus, kamu memberi Aku minum; ketika Aku seorang asing, kamu memberi Aku tumpangan; - Matius 25:35


Saya baru saja membaca biografi Albert Schweitzer. Saya sangat terinspirasi dan kagum dengan orang yang luar biasa ini. Betapa tidak? Ia seorang yang cerdas dengan 3 gelar Ph.D., yaitu dalam bidang filsafat, teologi dan musik. Pada usia 30, ia sudah menjadi begitu terkenal dan hidup dengan enak. Namun ketika ia membaca artikel tentang orang-orang Afrika yang menderita, sekarat, bahkan mati karena kurang gizi. Hatinya tergoncang, dan ia harus segera melakukan sesuatu. Ia memutuskan untuk belajar di fakultas kedokteran dan setelah lulus, ia berani meninggalkan kehidupannya yang nyaman untuk melayani orang-orang di Afrika selama 50 tahun! Sungguh nilai pengorbanan yang luar biasa demi melihat kehidupan sesama menjadi lebih baik.

Albert Schweitzer sangat berpotensi menjadi orang hebat dan orang yang kaya raya, namun ia tidak memperkaya dirinya. Ia justru memberikan hidupnya untuk melayani orang-orang miskin di Afrika dengan biaya sendiri. Menurut saya, itulah sukses sejati. Berbicara soal sukses tak selalu diukur dari berapa banyak uang yang kita punya, berapa aset perusahaan kita, atau berapa gaji kita sebagai tenaga profesional, dsb. Bukan soal bagaimana kita memperkaya diri kita sendiri, tapi bagaimana kita memperkaya kehidupan sesama kita dan menjadikan kehidupan mereka lebih baik.

Sebagai seorang murid Kristus, marilah kita meneladani apa yang dilakukan Kristus selama pelayanan-Nya di bumi ini. Yesus tidak memperkaya diri-Nya sendiri, sekalipun hal itu sangat bisa jika Dia mau melakukannya. Sebaliknya hidupnya diabdikan untuk manusia, khususnya manusia yang terpinggirkan dan terabaikan. Melalui tulisan ini, saya ingin mengetuk hati kita semua untuk mulai peka dan peduli terhadap keadaan sesama kita. Ingatlah bahwa kita diberkati bukan untuk memperkaya diri kita sendiri, kita diberkati untuk menjadi berkat bagi orang lain sehingga dunia melihat perbuatan kita yang baik dan memuliakan Bapa di sorga. Sesungguhnya kesuksesan kita akan menjadi semu, sebelum kita bisa menjadi berkat bagi sesama kita.

Bukan soal bagaimana kita memperkaya diri, tapi bagaimana memperkaya kehidupan sesama.



(Kwik)

» Artikel Rohani ini diambil dari Renungan Harian Spirit
» Anda dapat memesan versi cetaknya dengan cara mengisi formulir pemesanan.

Baca Juga Artikel Rohani di bawah ini:

Punya Kualitas

Anda tahu kopi luwak? Jika Anda penggemar kopi, tentu Anda pernah mendengar tentang dahsyatnya kopi khas Indonesia yang menjadi legenda di seluruh dunia ini. Citarasanya membuat kopi ini begitu mahal, di pasaran dunia bisa sampai 300 - 600 USD perkilo, atau 5 dolar secangkir (lebih mahal dari kopi Starbucks)! Bukan ...


Optimis

Banyak orang terlalu memanjakan diri dan mengasihani diri secara berlebihan ketika mengalami masalah di dalam kehidupannya. Banyak orang terlalu cengeng saat menghadapi masa sulit di dalam hidupnya dan tidak memiliki fighting spirit yang kuat. Rapuh, mudah menyerah, selalu pesimis, menyalahkan situasi dan keadaan, ...

SPIRIT JUNIOR AGUSTUS 2014
"Saling Mendukung"
Bonus :
Buku Sehat


SPIRIT AKTIVITAS AGUSTUS 2014
"Bangga Jadi Anak Indonesia"
Bonus :
Kwartet Seri 2


RENUNGAN SPIRIT AGUSTUS 2014
"Hope for The Land"
Bonus HandBook:
Optimis untuk Bangsa


SPIRIT MOTIVATOR AGUSTUS 2014
"Work + Pray = It Works!"
Bonus SmartBook:
Prayer Matters

SPIRIT GIRLS AGUSTUS 2014
"Ups and Downs"
Bonus:
Cutie Diary


SPIRIT WOMAN AGUSTUS 2014
"Simple Faith, Great Miracle"
Bonus:
Adakah Iman di Hatiku?


SPIRIT NEXT AGUSTUS 2014
"Peace for The Country"


SPIRIT PENUAI AGUSTUS 2014
"Sahabat Orang Berdosa"
Bonus: Menjangkau yang Hilang
Buku FAITH BREAKTHROUGH
30 Hari yang Sangat Menentukan
Hidup Anda!

oleh: Petrus Kwik


Buku CAREER BREAKTHROUGH
Mengalami Terobosan
Karir Luar Biasa Dalam 30 Hari

oleh: Petrus Kwik


Buku FINANCIAL BREAKTHROUGH
30 Hari yang
Sangat Menentukan
Keuangan Anda!

oleh: Petrus Kwik


Arsip Artikel Rohani