Naluri Bapa

Jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik...
apalagi Bapamu yang di sorga... - Matius 7:11
Saya bukan pahlawan. Bukan juga seorang manusia super. Bukan orang yang luar biasa. Tidak juga hebat, apalagi mengundang decak kagum banyak orang. Saya tak lebih dari seorang ayah pada umumnya. Meski demikian saya akan melakukan apa saja demi anak saya. Jadi, jangan coba-coba mengganggu anak saya kalau tidak ingin berhadapan dengan saya. :)
Naluri seorang ayah seperti itu. Ketika anaknya merasa takut, ia akan memberikan rasa aman kepadanya. Ketika anaknya merasa sendirian, ia akan menemaninya dan memastikan bahwa ia akan selalu menjaga. Ketika anaknya terluka, ia akan membalutnya. Ketika anaknya sedih, ia akan menghibur dan membesarkan hatinya. Ketika anaknya membutuhkan sesuatu, ia akan selalu memenuhinya. Yang pasti, seorang ayah selalu tahu yang terbaik bagi anaknya.
Jika bapa di dunia ini saja memiliki naluri seperti itu, apalagi Bapa kita yang di surga! Kita takut, dan Ia memberikan rasa aman. Ada saatnya kita harus melewati masa-masa kelam dalam hidup kita, dan Tuhan menyertai. Ada saatnya kita merasa sedih dan kecewa, dan Tuhan menghibur. Ketika kita berbeban berat, Ia mengulurkan tanganNya dan memberikan kelegaan, semua beban kita ditanggungNya. Ia tahu yang terbaik dalam menolong kita. Tak perlu berteriak-teriak hanya untuk membuat Ia mendengar doa kita, dengan bisikan lembut pun Ia akan menghampiri dan menguatkan kita.
Sungguh aneh kalau kita berpikir Tuhan sudah melupakan kita. Adakah seorang ayah yang lupa terhadap anaknya sendiri? Terlalu mengada-ada kalau kita menyangka bahwa Tuhan tak lagi peduli terhadap kita atau sudah bosan terhadap kita. Sungguh konyol kalau kita merasa bahwa Tuhan terlalu sibuk dan tak mau diganggu, sekalipun Ia tengah mengurus seluruh alam semesta.
Saat menulis renungan ini, anak saya yang masih bayi tengah menangis. Saya tak berlambat-lambat untuk menunggu semua air matanya terkuras. Naluri saya sebagai seorang ayah membuat saya bergegas dan segera menolongnya. Memberikan rasa aman dan membuatnya tenang kembali. Kalau naluri “keayahan” saya saja bisa melakukan hal itu, apalagi Bapa kita di surga?
Percayakan hidup kita kepada Bapa yang baik.
(Kwik)
» Artikel Rohani ini diambil dari Renungan Harian Spirit
» Anda dapat memesan versi cetaknya dengan cara mengisi formulir pemesanan.
Baca Juga Artikel Rohani di bawah ini:

Maksimalkan Hidupmu
Apa yang Anda pikirkan ketika melihat burung dalam sangkar? Apakah Anda melihat burung yang indah dan bersuara merdu? Mungkin itu benar. Tapi, pernahkah terpikir oleh kita, apakah burung itu sebenarnya senang berada dalam sangkar? Saya yakin seriang-riangnya burung tersebut menyanyi dalam sangkar, ia pasti lebih memilih terbang bebas jika ...

Jangan Menyerah
Pengusaha John McCormack mengisahkan tentang temannya, Nick, bagaimana ia mendapatkan
pekerjaannya yang pertama di Amerika. Nick adalah seorang imigran, tidak punya
uang, tidak bisa berbahasa Inggris dan tidak punya kenalan yang merekomendasikannya
untuk bekerja di suatu tempat. Ketika hendak bekerja sebagai pencuci piring,
...

















